As U.S. casualties continue to climb in Afghanistan, an American public distracted by the war in Iraq can be forgiven for wondering: what happened? How did a war that seemed won in late 2001, just months after the Oct. 7, 2001 air campaign against the Taliban, suffer this sharp reversal fortune in less than seven years?
A new book by one of the most respected journalists of Afghanistan and Pakistan contends that the years between 2002 and 2007 were as crucial to the stability of the region as they were squandered by the Bush administration. A combination of lassitude and ignorance on the part of President George W. Bush and his war Cabinet — fueled by, paradoxically, the initial, rapid success of the Afghanistan war — led to a vicious circle of both Afghan and Pakistani corruption, violence and instability.
Descent Into Chaos by the prolific Pakistani journalist Ahmed Rashid chronicles how Afghanistan went from being a success story to a more dangerous place than Iraq; how Pakistan went from being a stalwart U.S. ally to a “bolt hole,” in Rashid’s words, for Al Qaeda, and the relationship of each to the other. It argues that Central Asia, rather than Iraq, is the major front on the war on terror; and methodically documents the success over the last six years of the forces of extremism, violence and terror. And it raises the uncomfortable prospect that, after nearly seven years in Afghanistan and billions of dollars spent supporting proxy governments in Kabul and Islamabad, the U.S. might be at greater danger from the region than at any time since Sept. 11, 2001.
With both presidential candidates attempting to checkmate the other on national security, Rashid’s book raises an uncomfortable question: can anything be done to reverse the region’s anti-American trends?
PIDATO BUSH (DAJJAL) TENTANG PERANG DI IRAQ
BEBERAPA FOTO PADA PERANG IRAQ
- Images of detainees held at Guantanamo
- Images of detainees held in Afghanistan
- Faces of detainees
- More faces of detainees
STIGLIZT TENTANG BIAYA PERANG IRAQ
Adalah Joseph E Stiglitz (kelahiran Gary, Indiana, 1943) bersama Linda J Bilmes dalam buku terbarunya, The Three Trillion Dollar War (London: Allen Lane, Maret 2008) yang telah menghitung secara rinci-statistik, biaya yang harus dikeluarkan Amerika untuk Perang Irak. Buku ini saya peroleh melalui kebaikan Dr Rizal Sukma yang menghadiahi saya buku-buku terbitan mutakhir.
Saya sudah sejak dini menamakan petualangan Amerika ini sebagai perang neoimperialisme terhadap bangsa lain, kali ini Afghanistan dan Irak, dua negeri yang tak berdaya. Dengan begitu, pelakunya jelas adalah penjahat perang yang telah melanggar Piagam PBB dan hukum internasional. Semua tuduhan terhadap Saddam Hussein yang menyimpan senjata pemusnah massal dan mempunyai kaitan dengan Alqaidah adalah palsu belaka. Kini Irak sudah babak belur, sementara tentara Amerika telah ribuan pula yang mati, invalid, gila, dan senewen. Mereka yang mengikuti perkembangan terakhir di Irak sangat paham dengan apa yang saya tulis ini. Tetapi, berapa biaya yang telah dan akan menguras pundi-pundi Amerika, maka buku Stiglitz di atas membeberkannya dalam analisis berdasarkan angka-angka. Stiglitz, di samping penulis-penulis lain, seperti Noam Chomsky, telah sejak awal menentang keras invasi terhadap Irak. Tetapi, Bush dan lingkaran neokons Amerika menutup mata dan menulikan telinga terhadap segala kritik rakyatnya sendiri. Sekarang nasi sudah menjadi bubur, penderitaan dan eksodus rakyat Irak jangan ditanya lagi. Di bawah Saddam mereka menderita, sekarang mereka menderita berlipat ganda. Sebuah negeri yang dulunya punya peradaban tinggi telah dua kali sepanjang sejarahnya harus mengalami pukulan sejarah yang teramat kejam dan berat: pertama, pada 1258 kota Baghdad diluluhlantakkan pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan; kedua, perang neoimperialisme yang sudah memasuki tahun keenam sampai detik ini.
Stiglitz mencatat bahwa biaya perang dan rentetan akibatnya yang harus dipikul Amerika, belum Inggris, Itali, dan lain-lain, tidak kurang dari tiga triliun dolar, sebuah angka yang teramat dahsyat dan tidak diperkirakan semula akan setinggi itu. Dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas bagi dunia, menurut Stiglitz, akan menelan biaya dua kali lipat: enam triliun dolar. Bahkan, sampai tahun 2017, pengeluaran pemerintah federal Amerika akan bergerak antara 3,5 triliun dolar AS dan 4,5 triliun dolar AS. Coba konversikan ke rupiah, alangkah ngerinya! Satu triliun sama dengan 1.000 miliar; satu dolar Amerika sama dengan Rp 9.200. Dengan uang sebesar ini, jika dipakai untuk menghalau kemiskinan, tentu seluruh benua Afrika akan tertolong, sekalipun sebagiannya pasti dikorup pula oleh penguasa lokalnya.
Dalam Los Angeles Times (16 Maret), Bilmes dan Stiglitz menulis: “Akhir 2008, pemerintah federal sudah akan mengeluarkan lebih dari 800 miliar dolar AS untuk biaya operasi tempur di Irak dan Afghanistan. Sampai detik ini, sudah lebih dari 1,6 juta tentara [Amerika] yang dikerahkan, juga telah mengganti perangkat keras militer yang sedang digunakan dan yang telah lusuh di Irak, dan sejumlah besar uang untuk pembayaran bunga atas pinjaman luar negeri, untuk membiayai perang.”
Kini sudah ada sekitar satu triliun dolar utang luar negeri Amerika pada Arab, Cina, dan negara lainnya. Kata Stiglitz, sebagai negara kaya, bagi Amerika tidak ada masalah dengan utang luar negeri, sebab pasti bisa dibayar. Yang menjadi pertanyaan Stiglitz adalah: “Apa yang telah dapat kita perbuat dengan satu, dua, atau tiga triliun dolar itu? Apa yang harus kita korbankan? Apakah, untuk menggunakan jargon para ekonom, biaya oportunitasnya?” Pemerintah Bush, menurut buku ini, telah memberikan jawaban yang tidak dikemas dengan baik dan tidak realistis. Perkiraan Gedung Putih semula biaya invasi itu hanyalah sekitar 50 miliar sampai 60 miliar dolar AS dan tidak akan menahun begini. Berbeda dengan ekonom yang lain, Stiglitz, pemenang Hadial Nobel ekonomi tahun 2002, kata orang, telah lama meninggalkan menara gadingnya karena langsung terjun ke lapangan untuk memberi pencerahan kepada penguasa dan pendukungnya agar tidak terus bertualang dalam kebiadaban.
Akhirnya, saya berharap agar kelompok-kelompok garis keras mau juga membaca buku ini, karena memang sangat kaya untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam bersikap. Janganlah orang memusuhi semua rakyat Amerika, apalagi membunuhnya. Jika saja yang terbunuh itu seorang Stiglitz yang senang juga tinggal di Bali, misalnya, dunia kemanusiaan tidak saja rugi, tetapi pasti akan meratapinya. Stiglitz telah melawan dengan argumen statistik hegemoni Pemerintah Amerika yang dikuasai kaum neokons selama hampir satu dasawarsa.
Mantan Jubir Bush Ungkap Kebohongan Perang Iraq
Kamis, 29 Mei 2008 – Hidayatullah.com: Fakta-fakta kebohongan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush soal Perang Iraq semakin hari semakin bertambah. Kali ini, itu datang bukan dari orang lain. Justru dari orang dekatnya, Scott McClellan, yang pernah menjabat sebagai sekretaris pers Gedung Putih.
“Perang Iraq tidak penting,” tulis McClellan dalam bukunya sebagaimana dikutip Washington Post.
Paparan McClellan tersebut dibukukan dengan judul What Happened: Inside the Bush White House and Washington’s Culture of Deception (Apa yang Terjadi: Di Dalam Gedung Putih (selama pemerintahan) Bush dan Budaya Tipu Muslihat Washington). Buku tersebut direncanakan beredar pekan depan.
ImageMcClellan menulis bahwa Perang Iraq merupakan kesalahan strategi besar dan serius. Sejak awal, keputusan Bush itu memang salah. Dia juga tidak memiliki rencana jelas untuk menjalankan perang tersebut dan bagaimana menyelesaikannya.
Dalam buku tersebut, McClellan memang tidak secara eksplisit menyatakan bahwa Bush berbohong soal alasannya menginvasi Iraq. Dia menulis bahwa pemerintahannya menyusun berbagai dalih sehingga tidak ada pilihan lain untuk mengatasi krisis di Iraq, selain dengan senjata.
“Tak seorang pun, termasuk saya, dapat memastikan bagaimana perang itu dinilai setelah kita memahami dampak yang ditimbulkannya,” tulisnya.
McClellan adalah juru bicara sekaligus mantan ajudan Bush. Selama menjabat, McClellan sering memberikan pernyataan yang diatasnamakan Bush tentang apa yang terjadi dalam Perang Iraq maupun dalam masalah pemerintahan Bush lainnya.
Dia sudah menjadi tangan kanan Bush sejak presiden AS tersebut masih menjadi gubernur Negara Bagian Texas. Sampai dia mundur April 2006, McClellan selalu mati-matian membela Bush.
Buku setebal 341 halaman yang sudah ditulisnya itu berisi pengalaman pribadi selama menjadi tangan kanan Bush dan kritik tajam tentang Bush dan pemerintahannya.
“Saya menghabiskan waktu yang tidak bisa dihitung untuk membela pemerintahan dari podium di Gedung Putih. Saat ini saya menyadari beberapa pidato tersebut salah,” ujarnya.
Penanganan Badai Katarina yang terjadi pada 2005 juga turut dia kritik. Menurut McClellan, pada minggu pertama badai tersebut, staf Gedung Putih lebih sibuk melakukan penyangkalan daripada melakukan penanganan terhadap bencana tersebut. Badai itu, tambah dia, juga menjadi bencana tersendiri di pemerintahan Bush.
Selain Bush, beberapa anggota pemerintahan Bush yang lain juga ikut jadi korban kritiknya. McClellan menyebut Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice sebagai seseorang yang lihai dalam mengelak dari kesalahan.
Pada 2001-2005, Condi -panggilan akrab Condoleezza Rice- menjabat sebagai penasihat keamanan Bush. “Kesalahan apa pun yang terjadi, dia (Condi, Red) selalu berusaha cuci tangan,” tulisnya seperti yang dikutip New York Times.
Sementara itu, Wakil Presiden Dick Cheney diberi julukan “manusia ajaib” karena mampu mengendalikan kebijakan politik tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Bersama dengan mantan penasihat senior Bush, Karl Rove dan Lewis “Scooter” Libby, Dick Cheney dituduh telah menipu McClellan. Dia merasa disuruh berbohong atas peran mereka dalam skandal kebocoran CIA. Masalahnya, meski ratusan fakta kebohongan sudah disajikan, toh, Iraq masih terus diduduki dan dijarah Amerika tanpa dipulihkan hak-haknya. [cha/jp/bbc/ berbagai sumber/www.hidayatullah.com] RumahBukuIslam
com
No Comments Yet
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar





























